WILUJEUNG SUMPING

WILUJEUNG SUMPING KASADAYANA........ SEMOGA BERMANFAAT.. AMIN..

Jumat, 07 Januari 2011

dinasti fatimiyah


PENDAHULUAN
         Apabila dikaji secara mendalam tentang aliran-aliran dalam Islam, maka akan ditemukan aliran Syi’ah . Aliran ini timbul akibat gejolak politik antar Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah ibn Abu Sufyan. Dalam Syi’ah terdapat sekte Imamiyah yang menjadi embrio timbulnya sekte Ithna Ashar  dan sekte Imam Sab’ah )atau yang lebih dikenal dengan sekte Isma’iliyah. Sekte Isma’iliyah mempunyai beberapa aliran , salah satunya adalah aliran Fatimiyah.
        Dalam perkembangan sejarahnya, aliran Syi’ah selalu menjadi golongan marginal, baik pada masa daulah Umaiyah maupun daulah Abasiyah, walaupun tatkala Daulah Abasiyah berjuang dan berhasil mengambil alih kekuasaan dari bani Umayyah mempunyai andil besar. Baru pada tahun 172 Hijriyah/ 789 Masehi berdiri Dinasti Idrisiyah yang didirikan oleh Muhammad ibn Abdullah di Maroko. Dinasti Idrisiyah berkuasa sampai tahun 314 Hijriyah/ 926 Masehi.
        Kondisi marginalistik ini membangkitkan aliran Syi’ah dari sekte Isma’iliyah. Gerakan Isma’iliyah ini dipelopori oleh Abdullah ibn Isma’il bersifat gerakan bawah tanah (rahasia). Hal ini disebabkan antara lain sikap Khalifah Harun Al-Rashid yang ingin menangkapnya karena dituduh ingin merebut kekuasaannya.  Konon, setelah menerima kabar akan penangkapan dirinya, Abdullah meloloskan dirinya dari Madinah ke kota Rayy dalam wilayah Iran Utara. Dari sinilah Abdullah mulai melancarkan gerakan bawah tanah yang terkenal dengan gerakan Isma’iliyah. Gerakan ini dimulai dengan kegiatan dakwah (propaganda). Doktrin yang didakwahkan antara lain bahwa Abdullah yang berhak menduduki Al-Mahdi (juru selamat manusia), menebalkan seorang khalifah (imam) untuk gerakan itu, menuntut berlangsungnya suatu revolusi social, membangun suatu system filasafat yang berdasarkan sebuah agama baru. Penyebaran doktrin ini dilaksanakan oleh paragon (da’i) dengan jaringan yang teroganisir secara rapi, sehingga gerakan Isma’iliyah ini merasa aman dan dirasakan cukup efektif, yang pada waktu singkat (sekitar 6 tahun) sudah meliputi Yaman, Bahrain, Sind, India, Mesir dan Afrika Utara.
       Sebenarnya sasaran dakwah gerakan Isma’iliyah itu masih termasuk dalam kekuasaan Daulah Abbasiyah, yang ketika itu posisi khalifah tidak hanya sebagai simbol dan daerah-daerah itu jauh dari pusat kekuasaan. Hal-hal yang demikian ini dimanfaatkan oleh Abdullah segera mendapat dukungan di kalangan masyarakat luas, termasuk para pembesar kerajaan tidak kurang dari sepuluh orang sudah menganut faham Syi’ah. Pada saat itu Afrika Utara dikuasai oleh Dinasti Aqhlabiyah. Pada tahun 296 Hijriyah/ 909 Masehi Dinasti Aqhlabiyah diperintah oleh Emir Abu Mudhari Ziadatullah yang bersifat glamour dan berfoya-foya. Sifatnya itu sangat tidak disukai rakyatnya, sehingga kesempatan ini dipergunakan oleh Abdullah untuk menyerangnya. Dalam serangan ini Emir merasa terdesak dan melarikan diri ke pulau Sicilia. Dengan dikuasainya Afrika Utara ini kemudian diumumkan terbentuknya Dinasti Fatimiyah dan Abdullah sebagai Emirnya dengan gelar Abdullah A-Mahdi.
        Setelah menjadi Emir, Abdullah Al-Mahdi mengadakan reformasi ke dalam, yaitu merubah sistem perpajakan yang sangat memberatkan dan meresahkan orang Barbar. Hal ini dilakukan karena andil orang Barbar sangat besar. Reformasi ke luar adalah memperkuat angkatan laut untuk mengembangkan ekspedisi militer, seperti Genao, Sicilia dan Mesir. Berkat angkatan laut yang kuat daerah per daerah dapat ditaklukkan, termasuk Mesir. Dalam makalah ini akan dibahas tentang terbentuknya Dinasti Fatimiyah, perkembangan, kemajuan dan kehancurannya.

FASE PEMBENTUKAN DINASTI FATHIMIYAH

        Afrika Utara sampai tahun 850 M dikuasai oleh Bani Aghlab, meliputi wilayah Ifriqyah(Tunisia) dan sebagian pulau Sisilia yang merupakan negara bagian daulah Abbasiyah. Wilayah disebelah baratnya berkuasa Bani Rustamiah di Aljazair dan Bani idris di Maroko, sedangkan Spanyol berada dibawah kekuasaan Bani Umayyah II. Semua dinasti ini berkuasa sampai tahun 909 M. Namun sesudah tahun 909 M muncul sebuah dinamika baru, terbentuknya sebuah Negara Fatimiyah di Fathimiyah berdiri pada tahun 297 H/910 M, dan berakhir pada 567 H/1171 M yang pada awalnya hanya merupakan sebuah gerakan keagamaan yang berkedudukan di Afrika Utara, dan kemudian berpindah ke Mesir Dinasti ini dinisbatkan kepada Fatimah Zahra putri Nabi Muhammad SAW dan sekaligus istri Ali bin Abi Thalib Radhiallahu anhu. Dan juga dinasti ini mengklaim dirinya sebagai keturunan garis lurus dari pasangan Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah Zahra binti Rasulullah SAW. Namun masalah nasab keturunan Fathimiyah ini masih dan terus menjadi perdebatan antara para sejarawan. Dari dulu hingga sekarang belum ada kata kesepakatan diantara para sejarawan mengenai nasab keturunan ini, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya ;
         Pertama, pergolakan politik dan madzhab yang sangat kuat sejak wafatnya Rasulullah SAW.
Kedua, ketidakberanian dan keengganan keturunan Fatimiyah ini untuk mengiklankan nasab mereka, karena takut kepada penguasa, ditambah lagi penyembunyian nama-nama para pemimpin mereka sejak Muhammad bin Ismail hingga Ubaidillah al Mahdi .
Dinasti Fatimiyah beraliran syiah Ismailiyah dan didirikan oleh Sa’id bin Husain al Salamiyah yang bergelar Ubaidillah al Mahdi. Ubaidillah al Mahdi berpindah dari Suria ke Afrika Utara karena propaganda Syiah di daerah ini mendapat sambutan baik, terutama dari suku Barber Ketama. Dengan dukungan suku ini, Ubaidillah al Mahdi menumbangkan gurbernur Aglabiyah di Afrika,, Rustamiyah Kharaji di Tahart, dan Idrisiyah Fez dijadikan sebagai bawahan .
          Pada awalnya, Syiah Ismailiyah tidak menampakkan gerakannya secara jelas, baru pada masa Abdullah bin Maimun yang mentransformasikan ini sebagai sebuah gerakan politik keagamaan, dengan tujuan menegakkan kekuasaan Fatimiyah. Secara rahasia ia mengirimkan misionaris ke segala penjuru wilayah muslim untuk menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah. Kegiatan inilah yang pada akhirnya menjadi latar belakang berdirinya dinasti Fatimiyah .

Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah
1. Al-Mahdi (909-934) 9 . Al-Musta’li ( 1094-1101)
2. Al-Qa’im (934-946) 10. Al- Amir (1101-1130)
3. Al-Manshur (946-952) 11. Al-Hafizth (1130-1149)
4. Al-Mu’izz (952-975) 12. Al-Zafir (1149-1154)
5. Al-Aziz (975-996) 13. Al-Fa’iz (1154-1160)
6. Al-Hakim (996-1021) 14. Al-Adhid (1160-1171)
7. Al-Zhahir (1021-1035)
8. Al-Mustanshir (1035-1094)
         Pasca kematian Abdullah ibn Maimun, tampuk pimpinan dijabat oleh Abu Abdullah al-Husain, melalui propagandanya ia mampu menarik simpati suku Khitamah dari kalangan Berber yang bermukim didaerah Kagbyle untuk menjadi pengikut setia. Dengan kekuatan ini, mereka menyeberang ke Afrika Utara dan berhasil mengalahkan pasukan Ziyadat Allah selaku Penguasa Afrika Utara saat itu .
         Syi’ah Ismai’liyah mulai menampakkan kekuatannya setelah tampuk Pemerintahan dijabat oleh Sa’id ibn Husain al-Islamiyah yang menggantikan Abu Abdullah al-Husain. Di bawah kepemimpinannya, Syi’ah Islamiyah berhasil menaklukkan Tunisia sebagai pusat kekusaan daulah Aglabiyah pada tahun 909 M . Said memproklamasikan dirinya sebagai imam dengan gelar Ubaidillah al Mahdi.
         Sa’id mengaku dirinya sebagai putera Muhammad al-Habib seorang cucu imam Islamiyah. Namun kalangan Sunni berpendapat bahwa Sa’id berasal dari keturunan Yahudi sehingga dinasti yang didirikannya pada awalnya disebut dinasti Ubaidillah. Sementara Ibn Khaldun, Ibn al-Asir dan Philip K. Hitti berpendapat bahwa Sa’id memang berasal dari garis keturunan Fatimah puteri Nabi Muhammad SAW, yang bersambung garis keturunannya hingga Husain bin Ali bin Abi Thalib .
         Ubaidillah merupakan khalifah pertama daulah Fatimiyah. Ia memerintah selama lebih kurang 25 tahun (909-934 M). Dalam masa pemerintahannya, al-Mahdi melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke seluruh Afrika, meliputi Maroko, Mesir, Multa, Alexandria, Sardania, Corsica, dan balerick. Pada 904 M, Kahalifah al-Mahdi mendirikan kota baru dipantai Tunisia yang diberi nama kota Mahdiyah yang didirikan sebagai ibukota pemerintahan.
          Di Afrika Utara kekuasaan mereka segera menjadi besar. Pada tahun 909 mereka dapat menguasai dinasti Rustamiyah dan Tahert serta menyerang bani Idris di Maroko. Pekerjaan daulah Fatimiyah yang pertama adalah mengambil kepercayaan ummat Islam bahwa mereka adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah dan istri dari Ali bin Abu Muthalib .
         Daulah Fatimiyah memasuki era kejayaan pada masa pemerintahan Abu Tamin Ma’Abu Daud yang bergelar al-Mu’iz (953-997). Al-Mu’iz behasil menaklukkan Mesir dan memindahkan pemerintahan ke Mesir. Pada masa ini rakyat merasakan kehidupan yang makmur dan sejahtera dengan kebijakan-kebijakan untuk mensejahterakan rakyatnya. Indikatornya adalah banyaknya bangunan fisik seperti Mesjid, Rumah sakit, Penginapan, jalan utama yang dilengkapi lampu dan pusat perbelanjaan. Pada masa ini pula berkembang berbagai jenis perusahaan dan kerajinan seperti tenunan, kermik, perhiasan emas, dan perak, peralatan kaca, ramuan, obat-obatan .
         Kesuksesan lainnya adalah dalam bidang pengembangan ilmu pengetahuan. Besarnya minat masyarakat kepada ilmu pengetahuan mendapat dukungan penguasa dengan membangun Dar al-Hikmah pada tahun 1005 M dan perguruan tinggi al-Azhar (yang sebelumnya adalah bangunan masjid), yang mengajarkan ilmu kedokteran, Fiqh, Tauhid, Al-Bayan, Bahasa Arab, Mantiq, dan sebagainya .

KEKHALIFAHAN DINASTI FATIMIYAH
        Dinasti Fatimiyah mengalami puncak kejayaan padamasa Khalifahal Aziz (365 386 H/975-996 M).
Dinasti Fatimiyah merupakan sebuah dinasti yang berkuasa di kawasan Benua Afrika saat ini pada pengujung tahun 200-an Hijriyah atau sekitar tahun 909 Masehi. Wilayah kekuasaannya mencakup wilayah Afrika Utara, Maroko, Mesir, Suriah, dan Palestina saat ini. Dinasti ini berkuasa selama 262 tahun, dari tahun 297 H/909 M sampai tahun 567 H/1171 M. Selama kurun waktu itu, ada 14 orang khalifah yang berkuasa.

        Al-Mahdl (297-322 H 909 934 Mi . Ia merupakan khalifah pertama sekaligus pendiri Dinasti Fatimiyah. Dilahirkan di Kufah, Irak, pada tahun 260 H/874 M. Dia merupakan pengikut Ismailiyah. Beliau dilantik sebagai khalifah pada tahun 297 H di Qairawan, Maroko, dan mendapat gelar amirulmukminin.
        Pada masa kepemimpinannya, pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpusat di Maroko dengan ibu kotanya al-Manshuriyah. Dinasti Fatimiyah menjalankan roda pemerintahan di Maroko selama 24 tahun yang dipimpin oleh empat orang khalifah, termasuk Ubaidillah al-Mahdi. Tiga orang khalifah Dinasti Fatimiyah lainnya yang pernah memerintah di Maroko adalah al-Qaim (322-323 H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muizz (341-362 H/952-975 M).
      Al-Mulzz (341-362 H/952-975 Mi Khalifah keempat Dinasti Fatimiyahini sempat menjalankan roda pemerintahan dari Maroko selama beberapa tahun. Namun, karena alasan keamanan, pada awal tahun 972 M, beliau pergi meninggalkan Maroko menftju ke arah timur (wilayah Mesir saat ini). Sebelum berhasil memasuki Kota Kairo, Khalifah al-Muizz sempat mendirikan istana di wilayah Iskandariyah. Baru pada tahun 973 M, pasukan                       
         Dinasti Fatimiyah yang dipimpinoleh panglima perang Jauhar Siqli berhasil menaklukkan Kota Kairo. Sejak saat itu, pusat pemerintahan Dinasti Fatimiyah berpindah ke Kairo.
        Saat memerintah di Mesir, al-Muizz mulai meninggalkan kebijakan toleransi yang selama ini ditunjukkan oleh Jauhar dan mulai mempertegas identitas Syiahnya. Misalnya, menerapkan fikih Ismailiyah, terutama ajaran Jafar as-Shadiq; menetapkan azan khas Syiah pada azan shalat Subuh; peringatan Ghadir Khumm (tempat Nabi Muhammad SAW menyatakan sesuatu yang diyakini oleh kaum Syiah sebagai penunjukan Ali sebagai khalifah setelah Nabi SAW wafat); dan perayaan 10 Muharram (peristiwa terbunuhnya Husain, cucu Rasulullah SAW).
        Al-Azlz (365-386 H/975-996 M)al-Muizz digantikan oleh anaknya, Nizar, yang bergelar ai-Aziz (yang perkasa). Dinasti Fatimiyah mengalami puncak kejayaan pada masa Khalifah al-Aziz. Selain berhasil mengatasi persoalan keamanan di wilayah Suriah dan Palestina, pada masa pemerintahan al-AziZi istana kekhalifahan dibangun sangat megah hingga mampu menampung tamu sebanyak 30 ribu orang. Masjid juga dibangun dengan megah-nya, sektor perhubungan lancar, dan keamanan terjamin. Bahkan, sektor pertanian, perdagangan, ataupun industri mengalami perkembangan pesat.
       Dalam bidang pemerintahan, Khalifah al-Aziz berhasil meredam berbagai upaya pemberontakan yang terjadi di wilayah-wilayah kekuasaannya. Dinasti ini dapat maju antara lain karena didukung oleh militer yang kuat, administrasi pemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan ekonominya stabil. Namun, setelah masa al-Aziz, Dinasti Fatimiyah mengalami kemunduran dan akhirnya hancur setelah berkuasa selama 262 tahun.
Al H.lkim (386-411 H 996 1021 M)

        Ketika al-Aziz meninggal pada tahun 386 H/966 M, beliau digantikan oleh al-Hakim bin Amrullah yang ketika itu baru berumur 11 tahun. Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemer WOBOPRCSS.COMintahan al-Hakim. Ia memerintah dengan tangan besi. Masa pemerintahannya dipenuhi dengan tindakan keke-rasaan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa pembantu terdekatnya, membunuh orang Kristen dan Yahudi, serta menghancurkan tempat peribadatan mereka. Salah satunya adalah sebuah gereja yang di dalamnya terdapat kuburan suci umat Kristen. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya Perang Salib.
      Az-Zahir (411-427 H 10211036 M) Setelah al-Hakim, kekuasaan Fatimiyah berpindah ke tangan saudara perempuannya, Sitti al-Mulk, yang dikenal dengan Saidah. Ia mengangkat putra al-Hakim, az-Zahir li Izaz Din Allah, sebagai khalifah. Pada masa az-Zahir, tidak ada prestasi penting yang dicatat dalam sejarah. Pemerintahannya dijalankan oleh Wazir al-Jarjarai yang bertempat di Kairo dan Panglima Anusytakin di Suriah.
      Al-Mustanslr (428-487 H,1036 1094 M) Ketika az-Zahir meninggal pada 427 H/1036 M, ia digantikan oleh putranya, Maad, yang bergelar al-Mustansir. Ia baru berusia tujuh tahun saat naik takhta tanpa pesaing. Pada awal kekuasaannya, al-Mustansir hanya melanjutkan pemerintahan ayahnya. Tahun 436 H/1045 M, al-Mustansir melakukan propaganda di dunia Islam dengan mengirimkan para propagandis atau pendakwah ke Iran dan Tran-soksania (wilayah Asia Tengah saat ini).
         Setelah meninggalnya al-Mustansir, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiyah dengan dua kelompok yang berada di belakang kedua anak al-Mustansir, yakni Nizar dan al-Mustali. Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrem, dan menjadi gerakan pembunuh. Sementara itu, pendukung al-Mustali lebih moderat. Al Must.Vli (487-495 H 1094 1101 M) Sikapnya yang lebih moderat inimembuat al-Mustali dipercaya untuk memegang kekhalifahan. Akan tetapi, pada masa pemerintahannya, basis spi-ritual Ismailiyah runtuh, terlebih setelah meninggalnya Khalifah al-Amir (khalifah ke-10) pada tahun 525 H/l 130 M.
         Krisis di antara kekuatan dalam pemerintahan Daulah Fatimiyah itu terus berlangsung pada masa al-Hafiz (525-544 H/l 131-1149 M), az-Zafir (544-549 H/1149-1154 M), al-Faiz (549-555 H/1154-11-60 M), dan al-Adid (555-567 H/l 160-U71 M). Krisis internal itu diperparah dengan majunya tentara Salib dan pengaruh Nuruddin Zangi dengan pangli-manya, Salahuddin al-Ayyubi.
        Ketika Khalifah al-Adid sakit pada tahun 555 H/l 160 M, Salahuddin al-Ayyubi mengadakan pertemuaan dengan para pembesar untuk menyelenggarakan khotbah yang menyebut nama Khalifah Abbasiyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuh dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayyubiyah.
PERKEMBANGAN DAN KEMAJUAN DINASTI FATIMIYAH

         Pada masa pemerintahan Fatimiyah, persoalan agama dan negara tidak dapat dipisahkan. Agama dipandang sebagai pilar utama dalam menegakkan daulah/negara. Untuk itu, pemerintah Fatimiyah sangat memperhatikan masalah keberagamaan masyarakat meskipun mereka berstatus sebagai warga negara kelas dua seperti orang Yahudi, Nasrani, Turki, Sudan .
       Menurut K.Ali, mayoritas khalifah Fatimiyah bersikap moderat, bahkan penuh perhatian terhadap urusan agama non muslim sehingga orang-orang Kristen Kopti Armenia tidak pernah merasakan kemurahan dan keramahan selain dari pemerintahan Muslim. Banyak orang Kristen, seperti al-Barmaki, yang diangkat jadi pejabat pemerintah dan rumah ibadah mereka dipugar oleh pemerintah.
       Akan tetapi, Kemurahan hati yang ditampilkan Khalifah Fatimiyah terhadap orang Kristen tidak urung menimbulkan isu negatif. Al-Mu’iz yang dikenal dengan kewarakan dan ketaqwaannya diisukan telah murtad, mati sebagai orang Kristen dan dikubur di gereja Abu Siffin di Mesir kuno. Namun, menurut Hasan, isu tersebut tidak benar sebab tidak ada sejarawan yang menyebutkan seperti itu, dan hanya cerita karangan (Khurafat) yang sengaja dienduskan oleh orang-orang yang tidak senang kepadanya termasuk dari sisa-sisa penguasa Abbasiyah yang sengaja ingin melemahkan kekuatan Fatimiyah .
        Sementara itu, agama yang didakwahkan Fatimiyah adalah ajaran Islam, menurut pemahaman Syi’ah Islamiyah yang ditetapkan sebagai mazhab negara. Untuk itu, para missionaris daulah Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran tersebut dan berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan daulah Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan mazhab Ismai’liyah .
        Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Ismai’liyah langsung dihukum bunuh. Pada tahun 391 H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan/fadhilah Ali bin Abi Thalib, dan di tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di mesjid, pasar dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat .
        Jelasnya peranan agama sangat diperhatikan sekali oleh penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya, sikap tegas khalifah Fatimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui mazhab Isma’iliyah dapat berupa apabila sikap seperti dapat berakibat munculnya instabilitas negara. Al-Hakim misalnya, agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar. Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan paham sunni, memberikan bantuan buku-buku bermutu sehingga warga Syi’ah ketika merasa senang sebab merasakan tengah hidup dikawasan sunni.
        Sikap yang diambil para khalifah Fatimiyah tidak sekejam yang dilakukan Abdullah al-Saffah yang berusaha mengikis habis siapa-siapa pengikut Bani Ummayyah di awal masa kekuasaannya. Dalam hal ini para khalifah Fatimiyah memberlakukan masyarakat secara sama selama mereka bersedia mengikuti ajaran Syi’ah Isma’iliyah yang merupakan madzhab negara.
         Ketidak senangan khalifah Fatimiyah kepada Abbasiyah tidak menunjukkan dalam bentuk kekerasan. Hanya saja, Khalifah Fatimiyah melarang menyebut-nyebut bani Abbasiyah dalam setiap khutbah jum’at dan mengharamkan pemakain jubah hitam serta atribut bani Abbasiyah lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah berwarna putih .
        Meskipun al-Mu’iz menuntaskan pemberontakan, akan tetapi ia akan selalu menempuh jalan damai terhadap pera pemimpin dengan Gubernur dengan menjanjikan penghargaan kepada yang bersedia menunjukkan loyalitasnya. Banyak diantara para Gubernur yang bersedia mengikuti mazhab Isma’iliyah, padahal mereka sebelumnya adalah Gubernur yang diangkat khalifah Abbasiyah. Sikap mereka ini juga dilakukan oleh penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka bersedia masuk Islam dan menganut mazhab Isma’iliyah ketika mereka ditawarkan memegang jabatan tertentu didalam pemerintahan .
        Tindakan tegas dalam bentuk pemberian hukum bunuh baru dilakukan terhadap orang yang menolak paham Isma’iliyah. Hanya satu peristiwa yang diambil tindakan tegas terhadap orang yang tidak mau mengikuti faham Isma’iliyah, yaitu ketika raja muda Zarida di Afrika yang bernama Mu’iz ibn Badis menghina dinasti Fatimiyah dengan tidak menyebut-nyebut nama khalifah Fatimiyah al-Muntasir pada saat khutbah jum’at melainkan menyebut-nyebut nama khalifah Abbasiyah. Tidak diambinya tindakan tegas dikarenakan al-Muntasir lebih tertarik pada pemberontakan Al-Bassasiri terhadap pemerintahaan Abbasiyah. Momen ini dinilai al-Muntasir sebgai kesempatan untuk menegakkan kembali kekuasaannya di Asia Barat setelah Tughril menegakkan kekuasaan Abbasiyah di wilayah itu .
        Dalam bidang administrasi pemerintahan tidak benyak berubah. Sistem administrasi yang dikembangkan khalifah Abbasiyah masih tyerus saja dipraktekkan. Khalifah menjabat sebagai kepala negara baik dalam urusan keduniaan maupun dalam urusan spritual. Ia berwenang mengangkat sekaligus menghentikan jabatan-jabatan di bawahnya. Selain itu sakralisasi khalifah yang muncul di masa pemerintahan Abbasiyah masih tetap dipertahankan yang indikatornya dapat dilihat dari gelar yang disandang para khalifah Fatimiyah seperti al-Mu’iz dinillah, al-Aziz billah, al-Hakim bin Amrullah dan sebagainya.
Ada tiga hal yang dapat disoroti mengenai perkembangan dan kemajuan yang dicapai pada masa Dinasti Fatimiyah berkuasa yakni :

1. Kemajuan Administrasi Pemerintahan
Pengelolaan negara yang dilakukan Dinasti Fatimiyah ialah denganmengangkat para menteri. Dinasti Fatimiyah membagi kementrian menjadi dua kelompok. Pertama kelompok militer yang terdiri dari tiga jabatan pokok
 Pejabat militer dan pengawal khalifah
q
q Petugas keamanan
 Resimen-resimen
q

Yang kedua adalah kelompk sipil yang terdiri atas
 Qadhi (Hakim dan direktur percetakan uang)
q
q Ketua Dakwah yang memimpin pengajian
 Inspektur pasar (pengawas
q pasar, jalan, timbangan dan takaran)
 Bendaharawan negara (menangani
q Bait Maal
 Kepala urusan rumah tangga raja
q
 Petugas pembaca Al
q Qur'an, dan
 Sekretaris berbagai Departemen
q

        Selain pejabat pusat, disetiap daerah terdapat pejabat setingkat guberbur yang
diangkat oleh khalifah untuk mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi dikelola oleh pejabat setempat .

2. Penyebaran faham Syiah
        Syiah bertoleransi dengan Sunni dikarenakan penduduk Mesir mayoritas bermazhab Sunni, maka hal ini di lakukan sebagai upaya Syiah agar tetap dapat bertahan dalam pemerintahan. Ketika Al Muiz berhasil menguasai Mesir, di kawasan ini berkembang empat madzhab Fikih : Maliki, Hanafi, Syafi’I, Hanbali, sedangkan Al Muiz sendiri menganut madzhab Syiah. Dalam menyikapi hal ini Al Muiz mengangkat hakim dari kalangan Sunni dan Syiah. Akan tetapi jabatan-jabatan penting diserahkan kepada ulama Syiah sedangkan Sunni hanya menduduki jabatan rendahan. Pada tahun 973 M, semua jabatan di berbagai bidang politik, agama dan militer dipegang oleh Syiah. Disisi lain al Muiz membangun toleransi agama sehingga pemeluk agama lain seperti Kristen diperlakukan dengan baik dan diantara mereka diangkat menjadi pejabat istana . Syiah juga bertoleransi dengan Sunni karena penduduk Mesir mayoritas bermazhab Sunni, maka hal ini di lakukan sebagai upaya Syiah agar tetap dapat bertahan dalam pemerintahan.
        Dari Mesir Dinasti Fatimiyah tumbuh semakin luas sampai ke Palestina, dan kemudian propaganda Syiah Ismailiyah semakin tersebar luas melalui sebuah gerakan agen rahasia .

3. Perkembangan ilmu pengetahuan
        Dinasti Fatimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Fatimiyah membangun masjid Al Azhar yang akhirnya di dalamnya terdapat kegiatan-kegiatan pengembangan ilmu pengetahuan sehingga berdirilah Universitas Al Azhar yang nantinya menjadi salah satu perguruan Islam tertua yang dibanggakan oleh ulama Sunni . Al Hakim berhasil mendirikan Daar al Hikmah, perguruan Islam yang sejajar dengan lembaga pendidikan Kordova dan Baghdad. Perpustakaan Daar al Ulum digabungkann dengan Daar al Himmah yang berisi berbagai buku ilmu pengetahuan. Beberapa ulama yang muncul pada saat itu adalah sebagai berikut:
1. Muhammad al Tamimi (ahli Fisika dan Kedokteran)
2. Al Kindi (ahli sejarah dan filsafat)
3. Al nu’man (ahli hukum dan menjabat sebagai hakim)
4. Ali bin Yunus (ahli Astronomi)
5. Ali Al Hasan bin al Khaitami (ahli Fisika dan Optik)

        Disamping itu kemajuan bangunan fisik sungguh luar biasa. Indikasi-indikasi kemajuan tersebut dapat diketahui dari banyaknya bangunan-bangunan yang dibangun berupa masjid-masjid, universitas, rumah sakit dan penginapan megah. Jalan-jalan utama dibangun dan dilengkapi dengan lampu warna-warni, dalam bidang industri telah dicapai kemajuan besar khususnya yang berkaitan dengan militer seperti alat-alat perang, kapal dan sebagainya .

D. Puncak Kejayaan Dinasti Fatimiyah.
        Sepanjang kekuasaan Abu Mansyur Nizar al-Aziz (975-996), Kerajaan Mesir
Senantiasa diliputi kedamaian. Ia adalah khalifah Fatimiyah yang kelima dan khalifah pertama yang memulai pemerintahan di Mesir. Dibawah kekuasaannyalah dinasti Fatimiyah mencapai puncak kejayaannya. Nama sang khalifah selalu disebutkan dalam khutbah-khutbah jum’at disepanjang wilayah kekuasaanya yang berbentang dari Atlantik hingga laut Merah, juga di mesjid-mesjid Yaman, Mekkah, Damaskus, Bahkan di Mosul. Kalau dihitung-hitung, kekuasannya meliputi wilayah yang sangat luas.
        Di bawah kekuasaannya kekhalifahan Mesir tidak hanya menjadi lawan tangguh bagi kekhalifaan di Baghdad, tapi bisa dikatakan bahwa kekhalifaan itu telah menenggelamkan penguasa Baghdad dan ia berhasil menempatkan kekhalifaan Fatimiyah sebagai negara Islam terbesar di kawasan Meditera Timur. Al-Aziz menghabiskan dua juta dinar untuk membangun istana yang dibangun menyaingi istana Abbasiyah, musuhnya yang diharapkan akan dikuasai setelah Baghdad berhasil ditaklukkan. Seperti pendahulunya ia melirik wilayah Spanyol, tetapi khalifah Kordova yang percaya diri itu ketika menerima surat yang pedas dari raja Fatimiyah memberikan balasan tegas dengan berkata, “Engkau meremehkan kami karena kau telah mendengar tentang kami. Jika kami mendengar apa yang telah dan akan kau lakukan kami akan membalasnya”.
         Bisa dikatakan bahwa diantara para khalifah Fatimiyah khalifah Al-Aziz adalah khalifah yang paling bijaksana dan paling murah hati. Dia hidup di kota Kairo yang mewah dan cemerlang, dikelilingi beberapa mesjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru, serta memberikan toleransi yang terbatas kepada umat Kristen, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Sikap dan prilakunya ini tidak pelak lagi dipengaruhi oleh wazirnya yang beragama Kristen “Isa ibn Nasthir” dan isterinya yang berasal dari Rusia, ibu dari anak laki-laki dan pewarisnya, Al-Hakim, saudara perempuan dari dua bangsawan keluarga Melkis yang berkuasa di Iskandariyah dan Yerussalem.
        Menurut Harun Nasution, dalam masa kejayaan ini tergores sejarah yang menunjukkan kegemilangan Fatimiyah bahwa salah satu golongan sekte syiah yang bernama Qaramithah (Carmatian) yang dibentuk oleh Hamdan Ibnu Qarmat di akhir abad IX, menyerang Makkah pada tahun 951 M dan merampas Hajar Aswad dengan mencurinya selama dua puluh tahun. Hal ini disebabkan mereka meyakini bahwa hajar aswad adalah merupakan sumber takahayul. Gerakan ini menentang pemerintahan Pusat Bani Abbas, namun Hajar Aswad ini akhirnya dikembalikan oleh Bani Fathimiyah setelah didesak oleh kalifah Al Mansur pada tahun 951 M .


KAIRO MERUPAKAN JANTUNG DINASTI FATIMIYAH
        Dalam Ensiklopedia Islam, disebutkan bahwa Dinasti Fatimiyah mencapai puncaknya ketika Mesir berhasil ditaklukkan oleh panglima Jauhar As Siqli pada 969 M di bawah arahan Khalifah Al-Muizz. Atas perintah Al-Muizz, Jauhar As Siqli mendirikan kota baru yang disebut Al-Qahirah (Kairo) yang berarti kota kemenangan. Tujuan pendirian ibu kota itu adalah untuk menampung keperluan administrasi pemerintah dan tentara Berber. Kota Kairo pada masa-masa selanjutnya dijadikan sebagai ibu kota Khilafah Fatimiyah.
        John L Esposito menyebutkan, setelah Al-Muizz pindah ke Kairo pada 973 M, kemajuan yang diraih Fatimiyah adalah kekuatan angkatan laut dan militer, kemegahan istana, produk artistik Mesir, serta perkembangan perdagangan internasional. Kemajuan ini mem-proyeksikan bahwa rezim Fatimiyah sederajat dengan Imperium Bizantium dan lebih maju dari pusat peradaban di Baghdad yang pernah jaya pada masa Dinasti Abbasiyah.
         Puncak kejayaan Fatimiyah di Mesir berada di tangan Al-Aziz. Dikisahkan, istananya bisa menampung 30.000 tamu, masjidnya sangat megah, transportasi sangat lancar, dan keamanan serta stabilitas nasional terjamin. Perekonomian juga dibangun, baik sektor pertanian, perdagangan maupun industri, sesuai dengan perkembangan teknologi waktu itu.
         Dalam hal ilmu pengetahuan, Dinasti Fatimiyah berupaya menghidupkan tradisi keilmuan dan mendorong para sarjana Muslim agar mengembangkan penelitian mereka. Sejumlah fasilitas dibangun untuk mendukung cita-cita mulia tersebut. Mereka mendirikan
       Perpustakaan Istana Martabat al Qashr yang menyimpan sekitar 200 ribu koleksi buku yang dihimpun dari seluruh dunia. Koleksi buku tersebut terdiri atas pelbagai cabang ilmu pengetahuan, mulai dari bahasa Arab, astronomi, kimia, sejarah, dan biografi. Perpustakaan ini juga mempunyai 2400 naskah Alquran.
       Pada tahun 970 M, Al-Muizz membangun sebuah masjid yang didedikasikan untuk penyebaran kebudayaan, ajaran, dan pemikiran Syiah. Masjid tersebut diberi nama Al-Azhar yang pada masa-masa berikutnya berubah menjadi universitas dan didaulat sebagai universitas Islam tertua di dunia.
       Selain perpustakaan dan masjid, pada tahun 1306 M, Khalifah Al-Hakim mendirikan sebuah lembaga riset yang dikenal dengan sebutan Dar At Hikmah (The House Of Wisdom). Lembaga tersebut didesain sedemikian , rupa untuk memberikan konstribusi terhadap kemajuan penelitian ilmiah, terutama di bidang astronomi, matematika, dan kedokteran.
       Salah seprang astronom Arab terkemuka yang berasal dari lembaga ini adalah Aly Bin Yunus. Dia melakukan penelitian di Dar Al-Hikmah lebih dari 17 tahun. Sarjana Dar At-Hikmah terkenal lainnya adalah Ibn al-Haitham. Penelitiannya di bidang teknik, matematika, dan fisika mengilhami para ilmuwan Barat, seperti Roger Bacon, Kepler, dan Leornado di bidang optik.
        Di bidang seni bangunan, pada masa Fatimiyah, Kota Kairo dipenuhi dengan bangunan yang memiliki gaya arsitektur yang tinggi. Jenis keramik lustreware tersebar luas selama periode Fatimiyah. Kaca dan logam juga populer saat itu. Masjid dan istana dihiasi dengan marmer dan granit. Pilar, ukiran, dan patung yang bercorak Islam banyak digunakan. Panel dekoratif dan lampu kandil dilapisi dengan batu pualam putih dalam berbagailapisan warna. Tekstil dan bordir dari Kairo juga mampu menarik minat dunia, terutama para pedagang dari Eropa. Jejak seni arsitektur Fatimiyah yang sampai saat ini masih bisa dilacak adalah bangunan Masjid Al Azhar dan Masjid Al Al-Hakim serta kawasan Khan Al-Khalili.
        Di bawah Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kerajaan yang kekuasaannya meliputi Afrika Utara, Sisilia, Palestina, Lebanon, Suriah, Laut Merah Afrika, Yaman, dan wilayah Hijaz. Mesir terus berkembang dan Fatimiyah memperluas jaringan perdagangan di Mediterania dan Samudra Hindia. Perdagangan dan hubungan diplomatik telah diperpanjang sampai dengan Dinasti Song, Cina, yang pada akhirnya menentukan arah ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan.
       Kemajuan yang berhasil dicapai Dinasti Fatimiyah tidak terlepas dari prestasi dan ditunjang laju pertumbuhan di sektor-sektor terpenting, di antaranya militer yang kuat, administrasi pemerintahannya yang baik, ilmu pengetahuan yang berkembang, dan ekonominya yang stabil.
      Namun, secara politis, baik dalam maupun luar negeri, Fatimiyah kurang berhasil mengatasi gejolak-gejolak dan persoalan yang muncul. Fatimiyah dianggap lemah menghadapi kelompok Nasrani dan Suni yang sudah lebih dahulu mapan di Mesir.
      Pada masa pemerintan Al-Hakim, gejolak dan benturan antara kelompok mazhab dan agama tidak bisa dihindari. Sikap ketidaktegasan dan inkonsistensi yang ditunjukkan Al-Hakim memicu kebencian.
     Di bidang luar negeri, usahanya untuk maju bergerak lewat Suriah sempat diganjal oleh kemunculan kembali kekuasan Bizantium pada paruh kedua abad kesepuluh serta oleh serangan Turkman dan Seljuk pada abad ke sebelas

MASA KEMUNDURAN DAN RUNTUHNYA DAULAH FATIMIYAH.

               
Kemunduran Dinasti Fatimiyah berawal pada pemerintahan Khilafah al-Hâkim. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 11 tahun. Al-Hâkim memerintah dengan tangan besi, masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Ia membunuh beberapa orang wazirnya, menghancurkan beberapa gereja kristen, termasuk sebuah gereja yang di dalamnya terdapat Kuburan Suci umat Kristen. Maklumat penghancuran Kuburan Suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdûn. Peristiwa ini merupakan salah satu penyebab terjadinya Perang Salib. Ia memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai.  Orang-orang Yahudi dan Nasrani dibunuh dan aturan-aturan tidak ditegakan dengan konsisten.  Ia juga dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Kemudian pada tahun 381 H / 991 M ia menyerang Aleppo dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan penguasa Arab. Peristiwa  ini menimbulkan sikap oposan dari penduduk dan menyeret  Daulah Fatimiyah  dalam konflik dengan Bizantium. Walaupun pada akhirnya al-Hâkim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Bizantium selama sepuluh tahun.
Al-Hâkim kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan. Ia meninggalkan istana dan berkelana hingga akhirnya terbunuh di Mukatam pada 13 Pebruari 1021. Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya, Sitt al-Mulûk, yang telah diperlakukan tidak hormat olehnya.
Al-Hâkim kemudian digantikan oleh az-Zâhir, anaknya sendiri. Ketika diangkat menjadi khalifah ia baru berumur 16 tahun. Pada mulanya Dinasti Fatimiyah didirikan oleh bangsa Arab dan orang Barbar, tapi ketika masa az-Zâhir situasi berubah, khalifah lebih mendekati keturunan Turki. Hal ini menjadi pemicu timbulnya pertikaian antara orang Turki dan suku Barbar di dalam pemerintahan Fatimiyah. Az-Zâhir mendapat izin dari Konstantin ke VIII agar namanya disebutkan dimasjid-masjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia juga mendapat izin untuk memperbaiki masjid yang berada di Konstantinopel. Ini semua sebagai balasan terhadap restu sang khalifah untuk membangun kembali gereja yang didalamnya terdapat Kuburan Suci, dimana dulu gereja ini dihancurkan oleh al-Hâkim.
Setelah meninggal az-Zâhir kemudian digantikan oleh anaknya sendiri yang baru berusia 11 tahun, yaitu al-Mustanshir.  Mulai masa ini sistem pemerintahan Dinasti Fatimiyah berubah menjadi parlementer, artinya khalifah hanya berfungsi sebagai simbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para mentri. Oleh karena itulah masa ini disebut “ahdu nufuzil wazara” (masa pengaruh mentri-mentri). Al-Mustanshir sebagaimana juga az-Zâhir lebih mendekati keturunan Turki, hingga muncul dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar. Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah.
Pada masa al-Mustanshir ini kekuasaan Dinasti Fatimiyah di wilayah Suriah mulai terkoyak dengan cepat.  Sementara di Palestina sering terjadi pemberontakan terbuka. Sebuah kekuatan besar yang datang dari timur, yaitu bani Saljuk dari Turki, juga membayang-bayangi. Pada waktu yang bersamaan propinsi-propinsi Fatimiyah di Afrika memutuskan hubungan dengan pusat kekuasaan, bermaksud memerdekakan diri dan kembali kepada sekutu lama mereka, Dinasti Abasiyyah. Pada tahun 1052, suku Arab yang terdiri dari bani Hilal dan bani Sulaim yang mendiami dataran tinggi Mesir memberontak. Mereka bergerak ke bagian barat dan berhasil menduduki Tripoli dan Tunisia selama beberapa tahun.
Sementara itu pada tahun 1071, sebagian besar wilayah Sisilia, yang mengakui kedaulatan Fatimiyah dikuasai oleh bangsa Normandia yang daerah kekuasaannya terus meluas hingga meliputi sebagian pedalaman Afrika. Hanya kawasan Semenanjung Arab yang mengakui kekuasaan Fatimiyah.
Az-Zâhir kemudian digantikan oleh al-Mustanshir. Di masa ini terjadi kekacauan dimana-mana. Kericuhan dan pertikaian terjadi antara orang-orang Turki, suku Barbar dan pasukan Sudan. Kekuasaan negara lumpuh dan kelaparan yang terjadi selama tujuh tahun telah melumpuhkan perekonomian negara. Di tengah kekacauan itu, pada tahun 1073 khalifah memanggil Badr al-Jamalî, orang Armenia bekas budak dari kegubernuran Akka dan memberinya wewenang untuk bertindak sebagai wazir dan panglima tertinggi. Amîr al-Juyûsî (komandan Perang) yang baru ini mengambil komando dengan seluruh kekuatan yang ia punya untuk memadamkan berbagai kekacauan dan memberikan nyawa baru pada pemerintahan Fatimiyah. Tapi usaha ini, yang juga diteruskan oleh anak dan penerus al-Mustanshir yaitu al-Afdhal, tidak dapat menahan kemunduran Dinasti ini.
Tahun-tahun terakhir dari kekuasaan Dinasti Fatimiyah ditandai dengan munculnya perseteruan yang terus menerus antara para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Setelah al-Mustanshir wafat, terjadi perpecahan serius dalam tubuh Ismailiah. Perpecahan itu terjadi antara dua kelompok yang berada di belakang kedua anak al-Mustansir yaitu Nizar dan al-Musta’li. Pendukung Nizar lebih aktif, ekstrim dan menjadi gerakan pembunuh. Sedangkan pendukung al-Musta’li lebih moderat. Akhirnya yang terpilih menjadi khalifah adalah al-Musta’li karena ia didukung oleh al-Afdhal. Al-Afdhal mendukung al-Musta’li dengan harapan ia akan memerintah dibawah pengaruhnya. Akan tetapi basis spiritual Ismailiah menjadi runtuh. Setelah al-Musta’li wafat, al-Amin, anak al-Musta’li yang baru berumur lima tahun diangkat sebagai khalifah.
Al-Amin kemudian   digantikan oleh al-Hafidz. Ketika ia meninggal kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana kekhalifahan saja. Anak dan penggantinya, az-Zhafir diangkat menjadi khalifah dalam usia yang masih sangat muda hingga. Merasa tidak mampu menghadapi tentara salib, khalifah az-Zafir melalui wazirnya Ibnu Salar, meminta bantuan kepada Nuruddin az-Zanki, penguasa Suriah di bawah kekuasaan Baghdad. Nurudin mengirim pasukannya ke Mesir di bawah panglima Syirkuh dan Salahuddin Yusuf bin al-Ayubi yang kemudian berhasil membendung invasi tentara salib ke Mesir.  Kemudian kekuasaan az-Zafir direbut  oleh wazirnya, Ibnu Sallar. Tapi Ibnu Sallar kemudian dibunuh, dan az-Zafir juga terbunuh secara misterius. Kemudian naiklah al-Faiz, anak az-Zhafir yang baru berusia empat tahun, sebagai khalifah. Khalifah kecil ini meninggal dalam usia 11 tahun dn digantikan oleh sepupunya al-Adhid yang baru berumur sembilan tahun. Maka pada tahun 1167 M pasukan Nuruddin az-Zanki untuk kedua kalinya kembai memasuki Mesir di bawah pimpinan Syirkuh dan Salahuddin. Kedatangan mereka kali ini tidak hanya membantu melawan kaum salib tetapi juga untuk menguasai Mesir. Daripada Mesir dikuasai tentara salib, lebih baik mereka sendiri yang menguasainya. Apalagi Perdana Mentri Mesir waktu itu, Syawar, telah melakukan penghianatan. Akhirnya  pasukan Nuruddin berhasil mengalahkan tentara salib dan menguasai Mesir.
Semenjak itu kedudukan Salahuddin di Mesir semakin mantap. Apalagi ia mendapat dukungan dari masyarakat yang mayoritas sunni. Peristiwa ini menyebabkan  menguatnya pengaruh Nuruddin Zangki dan panglimanya Salahuddin al-Ayubi. Puncaknya terjadi pada masa al-Adid, pada masa pemerintahannya Salahuddin telah menduduki jabatan wazir. Dengan kekuasaannya Salahuddin menghormati dan memberikan kesempatan kepada orang-orang Fathimiyah. Namun ketika al-Adhid jatuh sakit pada tahun 555 H / 1160 M, Salahudin al-Ayubi mengadakan pertemuan dengan para pembesar untuk menyelengarakan khutbah dengan menyebut nama khalifah Abasiyyah, al-Mustadi. Ini adalah simbol dari runtuh dan berakhirnya kekuasaan Dinasti Fatimiyah untuk kemudian digantikan oleh Dinasti Ayubiyyah
Adapun faktor yang menyebabkan kemunduran dan runtuhnya daulah Fatimiyah dapat diklarifikasikan kepada faktor internal dan eksterna:

      1. Faktor Internal

Faktor internal yang paling signifikan dalam menghantarkan kemunduran daulah Fatimiyah adalah di karenakan lemahnya kekuasaan pemerintah. Menurut Ibrahim Hasan, para khalifah tidak lagi memiliki semangat juang yang tinggi seperti yang ditunjukkan para pendahulu mereka ketika mengalahkan tentara Berber di Qairawan. Kehidupan para khalifah yang bermewah-mewah merupakan penyebab utama hilangnya semangat untuk melakukan ekspansi .
Selain itu, para khalifah kurang cakap dan memerintah sehingga roda pemerintahan tidak bejalan secara efektif, ketidak efektifan ini dikarenakan khalifah yang diangkat banyak yang masih berusia relatif muda sehingga kurang cakap dalm mengambil kebijakan . Tragisnya mereka ibarat boneka ditangan para wajir karena peranan wajir begitu dominan dalam mengatur pemerintahan.
Fenomena ini muncul pasca wafatnya al-Aziz, setelah al-Aziz wafat ia digantikan puternya bernama Abu Mansur al-Hakim yang pada saat pengangkatannya masih berusia 11 tahun. Kebijakan dalam pemerintahannya sangat tergantung kepada keputusan Gubernur bernama Barjawan yang meskipun pada akhirnya dihukum al-hakim karena penyalahgunaan kekuasaan .
Bukti lain ketidak cakapan khalifah adalah munculnya perlawanan orang Kristen terhadap penguasa. Perlawanan ini muncul dikarenakan orang Kristen tidak senang dengan maklumat al-Hakim yang dianggap menghilangkan hak-hak mereka sebagai warga negara. Maklumat tersebut berisikan tiga alternatif pilihan yang berat bagi orang Kristen. Masuk Islam, atau meninggalkan tanah air, atau berkalung salib sebagai simbol kehancuran .
Setelah al-Hakim wafat, ia digantikan puteranya bernama Abu Hasyim Ali yang bergelar al-Zahir. Pada saat pengangkatannya al-Zahir masih berusia 16 tahun dan kebijakan pemerintahan berada ditangan bibinya bernama Siti al-Mulk, sepeninggalan bibinya al-Zahir menjadi raja boneka ditangan para wajirnya.
Pengangkatan khalifah dalam usia relatif muda masih terus berlanjut hingga masa akhir pemerintahan daulah Fatimiyah, bahkan khalifah ke tiga belas yang bernam al-Faiz dinobatkan pada saat masih balita nanun keburu meninggal dunia sebelum berusia dewasa. Sementara khalifah terakhir bernam al-Adid dinobatkan disaat berusia sembilan tahun.
Faktor lainnya diperparah oleh peristiwa alam. Wabah penyakit dan kemarau panjang sehingga sunagi Nil kering, menjadi sebab perang saudara. Setelah meninggal Abu Tamim Ma’ad al Muntashir diganti oleh anaknya al Musta’li. Akan tetapi Nizar, (anak Abu Tamim Ma’ad yang tertua) melarikan diri ke Iskandariyah dan menyatakan diri sebagai khalifah. Oleh sebab ini fatimiyah terpecah menjadi dua .
Selain itu, faktor internal lainnya sebagai penyebab kehancuran daulah Fatimiyah adalah persaingan dalam memperoleh jabatan dikalangan wajir. Pada masa al-Adid sebagai khalifah terakhir misalnya, terjadi persaingan antara Abu Sujak Syawar dan Dargam untuk merebutkan jabatan wajir yang akhirnya dimenangkan Dargam. Karena sakit hati, Syawar meminta bantuan Nur Al-Din al-Zanki untuk memulihkan kekuasannya di Mesir, jika berhasil ia berjanji untuk menyerahkan sepertiga hasil penerimaan negara kepadanya.
Tawaran ini diterima Nur al-Din, lalu ia mengutus pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan keponakannya Salah al-Din al-Ayyubi. Pasukan ini mampu mengalahkan Dargam sehingga Syawar kembali memangku jabatan wazir dan memenuhi janjinya kepada Nur al-Din.
Perebutan kekuasaan ditingkat wazir ini merupakan awal munculnya kekuasaan asing yang pada akhirnya mampu merebut kekuasaan dari tangan daulah Fatimiyah dan membentuk dinasti baru bernama Ayyubiyah.

        2. Faktor Eksternal

Adapun faktor eksternal yang menjadi penyebab runruhnya daulah Fatimiyah adalah menguatnya kekuasaan Nur al-Din al-Zanki di Mesir. Nur al-Zanki adalah Gubernur Syiria yang masih berada di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah. Popularitas al-Zanki menonjol pada saat ia mampu mengalahkan pasukan salib atas permohonan khalifah al-Zafir yang tidak mampu mengalahkan tentara salib.
Dikarenakan rasa cemburunya kepada Syirkuh yang memiliki pengaruh kuat di istana dianggap sebagai saingan yang akan merebut kekuasaannya sebagai wazir, syawar melakukan perlawanan. Agar mampu menguat kekuasannya, Syawar meminta bantuan tentara Salabiyah dan menawarkan janji seperti yang dilakukannya terhadap Nural-Din .
Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang salib dan melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk dapat menaklukkan Mesir. Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib.Syawar sendiri dapat ditangkap dan dihukum bunuh dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fatimiyah .
Dengan kemenangan ini, maka Syirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun
565 H / 1117 M. setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Salah al-Din Ayyubi. Selanjutnya Salah al-Din mengambil kekuasaan sebagai khalifah setelah al-Adid wafat. Dengan berkuasanya Salah al-Din, maka diumumkan bahwa kekuasaan daulah Fatimiyah berakhir. Dan membentuk dinasti Ayyubiyah serta merubah orientasinya dari paham syi’ah ke sunni .
Khalifah Fatimiyah berakhir pada tahun 567 H / 1117 M. Untuk mengantipasi perlawanan dari kalangan Fatimiyah, Salah al-Din membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer. Yang kini bangunan benteng tersebut masih berdiri kokoh di kawasan pusat Mishral qadim (Mesir lama) yang terletak tidak jauh dari Universitas dan juga dekat dengan perumahan Mahasiswa Asia di Qatamiyah.




                                                                    KESIMPULAN

     Berangkat dari pembahasan peristitiwa sejarah peradaban Islam pada masa dinsti Fatimiyah maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
           1. Ketika Dinasti Abbasiah mulai melemah di Bagdad maka lahirlah kekhalifahan Fatimiyah, salah satu dinasti Islam beraliran Syi’ah Isma’liyah pada tahun 909 M. di Aprika Utara setelah mengalahkan Dinasti Aghlabiah, dalam sejarah, dinasti Fatimiyah datang setelah pusat kekuasaannya dipindahkan dari Tunisia ke Mesir. Kekuasaan Syi’ah tersebut berakhir pada tahun 1771 M dan kekhalifahan ini lahir sebagai manifestasi dari idealisme orang-orang Syi’ah yang beranggapan bahwa yang berhak memangku jabatan Imamah adalah keturunan Fatimah binti Rasulullah. Dalam sejarah peradaban Islam bahwa Dinasti ini lahir di antara dua kekuatan politik khalifahan, yaitu Abbasiyah di Bagdad dan Ummayah II di Cordofa.
            2. Selama pemerintahan Dinasti Ftimiyah berkuasa telah banyak memberikan kontribusi pemikiran terhadap peradaban Islam baik dalam sistim pemerintahan maupun dalam bidang ilmu pengetahuan, kemajuan ini mencapai puncaknya pada zaman al-Aziz yang bijaksana. Adapun kemajuan tersebut terlihat dari berbagai bidang dintaranya; Kemajuan dalam bidang pemerintahan, bentuk pemerintahan pada masa dinasti Fatimiyah merupakan bentuk pemerintahan sebagai pola baru dalam sejarah Mesir, dalam pelaksanaanya khalifah adalah kepala yang bersifat temporal dan spiritual dimana pengangkatan sekaligus pemecatan pejabat tinggi dibawah kontrol khalifah. Dalam pengelolaan negara dinasti ini mengangkat beberapa Menteri yang bertugas membantu khalifah, kemudian dalam sistim politik Dinasti Fatimiyah memiliki dua ofsi yaitu politik dalam negeri dan politik luar negeri. Peyebaran ajaran Syi’ah, kemajuan dinasti Fatimiyah bukan hanya terlihat dari segi pemerintahan akan tetapi dalam bidang agama yaitu penyebaran faham Syi’ah, dengan demikian segenap pengetahuan negeri tersebut tentang Islam berdasarkan pemikiran Syi’ah yang pokok ajaran terpentingnya adalah Ali diwasiatkan menjadi khalifah dan jabatan khalifah itu dikhususkan kepada anak-anaknya dari isterinya Fatimah. Perkembangan ilmu pengetahuan’ pada masa Dinasti Fatimiyah mencapai kondisi yang sangat mengagumkan, hal ini di sebabkan dengan berkembangnya penterjemahan dan penerbitan sumber-sumber pengetahuan dari bahasa asing seperti bahasa Yunani, Persia dan India kedalam bahasa Arab yang banyak mendorong para wazir, sultan dn umara untuk melahirkan tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan sastra. Dalam bidang sosial ekonomi, dibawah pemerintahan dinasti Fatimiyah, Mesir mengalami kemakmuran ekonomi dan vitalitas kultural yang mengungguli irak dan dairah-dairah lainnya, hubungan dagang dengan dairah non Muslim dibina dengan baik, kesejahteraan masyarakat sangat tinggi terbukti dengan dibangunnya perguruan tinggi, rumah-rumah sakit, pemondokan kahlifah menghiasi kota baru di Kairo begitu pula tempat pemandian umum dan pasar-pasar di bangun dan dipenuhi oleh berbagai peruduk dari seluruh negeri, ini menunjukkan bahwa kemakmuran yang begitu melimpah dan kemajuan yang begitu luar biasa pada masa dinati Fatimiyah.
            3. Dinasti Fatimiyah mencapai kemunduran Setelah Al-Hakim, Khalifah-kahlifah Fatimiyah tidak lebih dari boneka yang menjadi permainan para wazir dan Jenderal, selama pemerintahan al-Muntansir yng cukup lama (427-487 H./1036-1097) terjadi perselisihan yang sangat tajam antara jendral dan wazir kemudian perselisihan ini membawa ibu kota Kairo, kearah anarkis dan kekacauan yang hebat ditambah lagi dengan wabah penyakit dan kemarau panjang, sehingga Dinsti Fatimiyah terpecah menjadi dua Nizari dan Musta’li. Kemudian pada masa al-Musta’li pasukan Salib melakukan serangan sehingga menguasai Antokia hingga Bait al-Maqdis, karena tentara Salib terlalu tangguh, al-Zafir meminta bantuan kepada Nuruddin al-Zanki .Nurudin al-Zanki mengirim pasukan dibawah pimpinan Syirkuh dan Salahudin al-Ayubi, setelah berhasil mengalahkan pasukan salib kemudian pasukan Nurudin al-Zanki kembali ke Suriyah akan tetapi sepeniggal pasukan tersebut terdapat konplik internal, yaitu Syawar mengundang tentara salib ke Mesir karena ingin memperleh jabatan wazir.Akhirnya pasukan Nurudin al-Zanki yang di pimpin oleh Syirkuh datang kembali ke Mesir. Syawar di tangkap dan kepalanya di penggal atas perintah dinasti Fatimiyah, Syirkuh akhirnya diangkat menjadi wazir oleh Fatimiyah (564 H), tiga bulan kemudian, Syirkuh wafat dan diganti oleh kemenakannya Salahudin al-Ayubi. Kemudian pada tanggal 10 Muharram 567 H/1171 M, khalifah al- Adid (Fatimiyah) wafat dan kekuasaan berpindah ketangan Salahudin al-Ayubi.














DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar